Jumat, 12 Mei 2017

Gunung Andong Jawa Tengah, Alternatif Isi Waktu Liburanmu


JAWA TENGAH, Beritaseharian.com - Liburan saat ini sudah menjadi gaya hidup berbagai kalangan, tak pelak kini liburan atau piknik menjadi hal yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak pihak, selain lepas dari aktivitas yang penat, liburan juga menjadi sarana refresh pikiran.

Bagi kamu yang hobinya pecinta alam, lagi-lagi mendaki gunung menjadi sesuatu yang sangat menarik mengisi waktu liburan.



Menikmati hiruk-pikuk alam bebas menjadi hal yang amat dicari saat hari-harimu telah dilalui dengan bekerja, kuliah, atau bahkan galau, kalau kata anak jaman sekarang ''jangan kurang piknik".

Jika yang ingin menikmati alam bebas, ada salah satu Gunung di Jawa Tengah yang bisa menjadi alternatif untuk megisi waktu liburan, yakni Gunung Andong yang terleta di Kabupaten Magelang.

Mengenal Gunung Andong

Bila di Wonosobo ada Gunung Prau maka di Magelang ada Gunung Andong. Kedua gunung tersebut dapat dibilang gunung favorit di kalangan pendaki.

Waktu pendakiannya yang tidak terlalu lama dan jalurnya pun bersahabat bagi pemula, serta pemandangannya yang indah menjadikan kedua gunung tersebut banyak dikunjungi.

Jangan Takut Soal Transportasi

Untuk datang ke Gunung Andong, tak perlu khawatir soal transportasi. Bisa melalui Semarang maupun Yogyakarta. Bila dari Semarang, bisa naik bus tujuan Solo. Lalu turun di Pasar Sapi Salatiga. Dari situ lanjutkan dengan angkutan menuju Magelang dan turun di Pasar Ngablak.



Sedangkan dari Yogyakarta, naik bus jurusan Terminal Tidar Magelang. Lalu berganti angkutan menuju Salatiga dan turun di Pasar Ngablak. Sesampainya di Pasar Ngablak, bisa menggunakan jasa ojek motor untuk sampai ke Basecamp Gunung Andong via Dusun Sawit.

Jalur Pendakian

Awal pendakian, kita masih berjalan mengikuti jalan desa hingga akhirnya bertemu gapura pendakian Gunung Andong.

Mulai dari gapura itu jalur yang akan kita lewati semakin menanjak. Jalur tanah yang sudah dibentuk seperti tangga mendominasi awal pendakian ini. Rimbunnya pepohonan pinus melindungi kita dari teriknya matahari.



Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, kita akan sampai di Pos 1 (Watu Pocong). Jalur menuju Pos 2 (Gili Cino) masih didominasi jalur tanah dengan kemiringan cukup curam. Terdapat bangunan (gubuk) untuk beristirahat di Pos 1 dan Pos 2.

Perjalanan berlanjut dan kali ini kita mulai dihadapkan dengan jalur berbatu. Kita harus semakin hati-hati melangkah dikarenakan satu sisi jalur adalah jurang sementara sisi yang lain adalah tebing.

Di pertengahan menuju Pos 3 (Watu Wayang), kita akan menemui sumber air. Di Pos 3 tidak ada bangunan (gubuk) hanya ada tanda sebuah batu.



Selepas Pos 3 akan ada jalur pertigaan, yang dimana kalau ke kiri itu menuju Puncak Makam sedangkan kalau ke kanan itu menuju Puncak Andong dan Puncak Alap-Alap. 

Puncak Andong



Sebelum sampai Puncak Andong, akan ada dataran luas yang biasanya dijadikan camp area. Di camp area tersebut berdiri dua bangunan yang cukup luas yang berfungsi sebagai warung dan tempat evakuasi ataupun tempat istirahat bagi pendaki yang tidak membawa tenda. Tidak lebih dari 15 menit berjalan lagi, kita akan sampai di Puncak Andong.

Bila ingin melanjutkan ke Puncak Alap-Alap, terlebih dahulu kita harus melihat kondisi cuaca dan kesegaran fisik kita. Karena jalur yang menghubungkan dua puncak tersebut adalah jalur terekstrim dalam pendakian ini. Jalur itu dinamakan Jembatan Setan.



Lebar jalurnya cukup sempit sekitar 1 meter dengan sisi kanan kirinya adalah jurang. Kesulitan semakin terasa karena jalur tersebut tidak rata dan sangat berbahaya bila dilalui saat cuaca buruk.

Setelah berhasil mencapai puncak, baik itu Puncak Makam, Puncak Andong ataupun Puncak Alap-Alap, kita akan disuguhkan pemandangan sangat indah. Baik itu keindahan dari kota Magelang maupun keindahan dari gunung-gunung di sekitarnya seperti Merbabu, Sindoro dan Sumbing.

Persiapan Matang



Walaupun pendakian Gunung Andong dianggap bersahabat, kita jangan menganggap remeh. Karena setiap melakukan kegiatan di alam bebas diperlukan persiapan.

Tidak cukup dengan kenekatan ataupun hanya sekedar ikut-ikutan. Kita harus mempersiapkan fisik maupun mental serta perlengkapan pun harus menunjang dikarenakan kondisi alam yang sulit ditebak terutama mengenai cuaca yang terkadang bisa membahayakan di saat suhu panas maupun dingin. Ingatlah selalu untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam, janganlah kita merusak alam.

___________________________________________

Penulis : Tomy (nyokmlaku)
Editor   : Pramdia
Foto      : Tomy
https://twitter.com/TomFromBehind

Kamis, 09 Maret 2017

Menyapa Ranu Kumbolo, Surganya Gunung Semeru

Ranu Kumbolo / Tomy

Di kalangan pendaki gunung, salah satu tempat yang dianggap romantis yaitu Ranu Kumbolo. Kenapa begitu..?? karena keindahan Ranu Kumbolo akan menghadirkan cinta, cinta antara manusia dengan alam ataupun cinta antara manusia dengan manusia. Kerinduan pun senantiasa hadir memanggil untuk kembali menyapa Ranu Kumbolo.

Terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada ketinggian 2400 Mdpl, Ranu Kumbolo sering diibarat sebagai surganya Gunung Semeru. Keindahan dan keasrian danau membuat siapapun akan nyaman bila berada di sana. Para pendaki yang ingin ke Gunung Semeru, biasanya akan menyempatkan diri untuk bermalam terlebih dahulu di Ranu Kumbolo sebelum keesokkan harinya melanjutkan perjalanan.

Ranu Kumbolo / Tomy

Untuk ke Ranu Kumbolo, bisa dimulai dari terminal Arjosari Malang. Setelah itu bisa menaiki angkot menuju Pasar Tumpang.  Di Pasar Tumpang sebaiknya kita melengkapi kebutuhan pendakian terutama bahan makanan dan obat-obatan.

Selanjutnya kita akan menuju desa Ranu Pani menggunakan kendaraan jeep. Sesampainya di Ranu Pani, kita harus registrasi pendakian dengan syaratnya antara lain surat keterangan sehat dan fotocopy KTP (Kartu Tanda Penduduk). Mulai dari desa Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo ditempuh dengan berjalan kaki. Lama perjalanan tergantung kondisi tubuh masing-masing, tetapi rata-rata memakan waktu 5 jam.

Perlu persiapan yang benar-benar matang untuk bisa menikmati keindahan Ranu Kumbolo. Tidak cukup dengan kenekatan ataupun hanya sekedar ikut-ikutan. Kita harus mempersiapkan fisik maupun mental karena akan melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Peralatan pendakianpun harus menunjang dikarenakan kondisi alam yang sulit ditebak terutama mengenai cuaca yang terkadang bisa membahayakan di saat suhu panas maupun dingin.

Ingatlah selalu untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam, janganlah kita merusak alam.

Menikmati Pesona Golden Sunrise Di Gunung Prau

Gunung Prau / Tomy

Di Jawa Tengah terdapat banyak wisata alam. Salah satunya adalah Dataran Tinggi Dieng yang termasuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Dikelilingi pegunungan membuat Dataran Tinggi Dieng bertanah subur dan berudara sejuk.

Beberapa objek wisata yang ada di sana antara lain Telaga Warna, Kawah Sikidang, Candi Arjuna dan masih banyak yang lainnya. Untuk para penikmat ketinggian, kurang lengkap rasanya bila berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng tanpa mengunjungi Gunung Prau. Memiliki panorama keindahan alam yang luar biasa, bahkan ketika sang mentari pagi mulai menampak dan memancarkan sinarnya banyak yang menyebut Golden Sunrise, kini Gunung Prau makin ramai dikunjungi.  Gunung yang berada di ketinggian 2565 Mdpl itu merupakan salah satu lokasi favorit untuk para fotografer  yang ingin berburu foto pemandangan alam.

Perjalanan ke Gunung Prau dimulai dari terminal Wonosobo menggunakan minibus tujuan Dieng. 
Berkelok-kelok lajunya membelah ladang nan hijau yang terhampar luas. Para penumpang mulai sibuk menikmati tiap detail keindahan yang tampak. Udara dingin pun sudah mulai memeluk tubuh. 

Tidak terasa 1 jam lebih terlewati dan akhirnya sampai di basecamp Gunung Prau jalur Patak Banteng tetapnya di Jl. Dieng Km. 24 Patak Banteng, Kejajar, Wonosobo. Sebelum melakukan pendakian, para pengunjung diwajibkan lapor kepada pihak basecamp. 

Awal pendakian, para pengunjung akan ditemani melangkah oleh ratusan anak tangga yang sudah tersusun rapi dengan kemiringan yang cukup terjal. Selanjutnya jalur pendakian akan didominasi jalur tanah yang akan penuh debu di musim kemarau dan berlumpur serta licin pada musim penghujan. Lama perjalanan tergantung kondisi tubuh masing-masing, tetapi rata-rata memakan waktu 2 jam untuk sampai camping area.

Pemandangan terindah di Gunung Prau terjadi saat matahari mulai terbit. Gunung-gunung yang berlokasi dekat dengan Gunung Prau terlihat jelas berdiri kokoh menyambut langit yang mulai berwarna keemasan. Kabut pun ikut memperindah pemandangan pagi yang akan membuat nyaman siapapun yang sedang menikmatinya.

Setiap ingin melakukan kegiatan di alam bebas termasuk mendaki gunung, diperlukan persiapan yang benar-benar matang. Tidak cukup dengan kenekatan ataupun hanya sekedar ikut-ikutan. Kita harus mempersiapkan fisik maupun mental karena akan melakukan kegiatan yang cukup melelahkan.

Perlengkapan pun harus menunjang dikarenakan kondisi alam yang sulit ditebak terutama mengenai cuaca yang terkadang bisa membahayakan di saat suhu panas maupun dingin. Ingatlah selalu untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam, janganlah kita merusak alam.

Berburu Keindahan Di Gunung Batu Jonggol

Gunung Batu Jonggol / Tomy

Bosan di Jakarta setiap weekend? Ingin melihat keindahan alam tapi tidak terlalu jauh? Coba datang saja ke Gunung Batu di kawasan Jonggol kabupaten Bogor. Meskipun tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 875 Mdpl tetapi keindahannya sempat menjadi Trending Topic  di media sosial. Selain keindahannya, lokasi yang cukup dekat dari Jakarta membuat banyak orang mengunjunginya.

Agak sulit ke sana bila menggunakan angkutan umum dikarenakan lokasinya jauh dari jalan raya yang dilintasi angkutan umum. Sebaiknya menggunakan kendaraan pribadi untuk mempermudah perjalanan. Bila berangkat dari Jakarta maka akan melewati kawasan Cileungsi – Cariu – Sukamakmur - Sukaharja dan akhirnya tiba di Gunung Batu. Mendekati lokasi, jalan yang dilalui di dominasi bebatuan yang menyulitkan untuk dilewati.  

Gunung Batu Jonggol / Tomy
Awal pendakian, jalur didominasi tanah berbatu. Setelah itu jalur akan semakin menanjak dengan track tanah dan pepohonan akan semakin jarang. Semakin ke atas, kita harus semakin hati-hati melangkah dikarenakan kanan dan kiri jalur adalah jurang. Jalur berbatuan besar yang cukup curam akan menyambut sebelum mencapai puncak.
Dibeberapa titik jalur, telah disiapkan tali untuk membantu dalam mendaki. Sesampai di puncaknya, kita bisa melihat keindahan kawasan Jonggol yang masih hijau dengan banyaknya pepohonan.

Gunung Batu Jonggol / Tomy
Setiap ingin melakukan kegiatan di alam bebas termasuk mendaki gunung, diperlukan persiapan yang benar-benar matang. Tidak cukup dengan kenekatan ataupun hanya sekedar ikut-ikutan. Kita harus mempersiapkan fisik maupun mental karena akan melakukan kegiatan yang cukup melelahkan.

Perlengkapan pun harus menunjang dikarenakan kondisi alam yang sulit ditebak terutama mengenai cuaca yang terkadang bisa membahayakan di saat suhu panas maupun dingin. Ingatlah selalu untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam, janganlah kita merusak alam.

Eksotisme Candi Cetho, Peninggalan Leluhur Di Lereng Gunung Lawu

Candi Cetho / Tomy
Candi Cetho berlokasi di lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah ini berada di ketinggian 1496 meter dari permukaan laut. Candi Cetho berlatar belakang agama Hindu. Pola halamannya berteras dengan susunan 13 teras meninggi kea rah puncak.
Candi Cetho / Tomy
Untuk menuju candi Cetho dari kota Solo, terlebih dahulu kita menggunakan angkutan ke terminal Karangpandan. Setelah itu menuju pasar Kemuning menggunakan angkutan desa. Sesampai di sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan ojek dikarenakan jalur jalannya lebih mudah dilewati dengan sepeda motor dan juga belum adanya  angkutan yang langsung menuju candi Cetho.

Candi Cetho / Tomy
Sampai saat ini candi Cetho masih sering didatangi oleh para peziarah yang ingin melakukan pemujaan ataupun pertapaan. Jadi jangan heran bila memasuki kawasan candi Cetho, akan tercium aroma dupa yang cukup menyengat dan banyak ditemui juga sesajen di beberapa lokasi. Terkadang kabut tiba-tiba muncul menyelimuti candi Cetho dan kemudian hilang begitu saja menambah kesan misterius candi Hindu ini.

Candi Cetho / Tomy

Candi Cetho dibuka mulai pukul 07.00 – 17.00 WIB. Para pengunjung diwajibkan mengenakan kain kampuh yang sudah disediakan oleh pengelola. Untuk wanita yang sedang haid sebaiknya tidak memasuki area candi. Udara sejuk penggunungan menjadi teman setia di kala mengelilingi kawasan candi.
 
Candi Cetho / Tomy

Saat memasuki kawasan candi, pengunjung akan disambut patung penjaga yang berada di depan gapura yang tampak gagah walaupun diselimuti kabut. Pada gapura teras ke VII terdapat prasasti dengan huruf Jawa kuno yang berbunyi “Pelling padamel irikang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397”, yang dapat ditafsirkan peringatan pendirian tempat peruwatan atau tempat untuk membebaskan dari kutukan dan didirikan tahun 1397 Saka (1475 M). Pada kawasan candi terdapat arca phallus (kelamin laki-laki) yang bersentuhan dengan arca berbentuk vagina (alat kelamin wanita). 


Ada juga arca garuda dan kura-kura yang diwujudkan dengan susunan batu di atas tanah membentuk kontur burung yang sedang membentangkan sayap.

Mengenal Candi Sukuh Di Balik Kabut Gunung Lawu

Candi Sukuh - Tomy

Di lereng Gunung Lawu terdapat banyak peninggalan masa lalu berupa bangunan candi. Selain Candi Cetho, di sana juga berdiri Candi Sukuh, yaitu sebuah komplek candi agama Hindu yang terletak di desa Berjo, kecamatan Ngargoyoso, kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah. Didirikan pada abad ke-15 Masehi, pada masa pemerintahan Suhita, ratu Majapahit (1429-1446). Dibangun menghadap ke barat dengan susunan halaman terdiri dari tiga teras.  Ketiga teras itu melambangkan tingkatan menuju kesempurnaan.

Candi Sukuh - Tomy
Relief yang terdapat di Candi Sukuh melambangkan tiga dunia, yaitu dunia bawah dilambangkan dengan relief Bima Suci, dunia tengah dilambangkan dengan relief Ramayana, Garudeya dan Sudhamala, sementara dunia atas dilambangkan dengan relief Swargarohanaparwa. Penggambaran ketiga dunia pada relief-relief tersebut menunjukkan tahapan yang harus dilalui manuasi untuk mencapai nirwana. Relief di Candi Sukuh terkesan vulgar dikarenakan penggambaran alat kelamin manusia pada beberapa figurnya.

Candi Sukuh - Tomy
Secara keseluruhan pola halaman dan penggambaran relief merupakan simbol menuju keabadian atau kesempurnaan yang diwujudkan melalui upacara keagamaan atau ruwat, yaitu sebagai sarana menaikkan derajat seseorang kepada tingkatan yang lebih suci, yaitu hilangnya mala dari dalam diri atau moksa.

Candi Sukuh - Tomy
Untuk menuju candi Sukuh dari kota Solo, terlebih dahulu kita menuju ke terminal Karangpandan. Setelah itu ke pasar Kemuning menggunakan angkutan desa. Sesampai di sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan ojek dikarenakan jalur jalannya lebih mudah dilewati dengan sepeda motor dan juga belum adanya  angkutan yang langsung menuju Candi Sukuh.

Candi Sukuh - Tomy
Candi Sukuh - Tomy
Candi Sukuh - Tomy